Ikan Bakar dan Kakosolo
----Kenangan: Om Hillon----
Waktu itu , seingatku aku kelas 1 SD Don Bosco Ruteng II, kami tinggal di kota super dingin Ruteng. Ya memang super dingin… karena terletak di atas pegunungan ….Disini terkadang turun hujan es..(sayang kita gak punya sirup waktu itu).... Kita dibuat menggigil sehingga sering berebutan merapat ke tungku untuk berdiang..
Buktinya ada tuh Om Romen yang mukanya tersiram air mendidih karena kalah tenaga desakan dengan kedua kakaknya. Mukanya weleh...jadi bopeng mengerikan waktu masih kecil. Waktu itu Om Mell belum lahir…Nanti ada cerita sendiri untuk ini… (Pak de Pur tentu lebih ingat kejadiannya).
Ok, kembali ke laptop….
Suatu saat aku dikirim sama mama (Oma SThere) ke Borong karena Opa Stef sedang bertugas di Borong, ini kota kecil di pesisir selatan pulau Flores, menghadap ke laut Sawu.
Seingatku mama menitipkan aku kepada om-om polisi muda yang dikirim bertugas ke Borong, naik truk polisi. Wow keren bener!!.
Asal tahu saja, di Ruteng waktu itu cuma ada 4 mobil dan 2 sepeda motor saja. BENERAN!
Ada 1 mobil sedan Ford milik toko cina di dekat lapangan bola,biasanya ini dipakai buat mobil pengantin, lalu 1 truk Idung Bau (ini ejaan kami, nama benernya Hidup Baru) merknya Fargo milik toko sebelah rumah kita, lalu 1 jip Landrover biasa dipakai kepala polisi dan 1 truk polisi merknya ROBUR buatan Rusia). Sepeda motornya 1 punya pak Bupati (mungkin) dan satunya skuter Vespa Piagio yg biasa dipakai oleh Bapa uskup Ruteng.
BTW, Oh iya, rumah kita tidak di dalam asrama polisi tapi DI BELAKANG asrama polisi, dekat dengan Swimbak (bhs Belanda Zwembak) alias kolam renang. Keadaannya saat itu sudah tidak seperti kolam renang, sudah tidak terawat. Dinding kolamnya masih utuh tapi airnya sering kosong.
Ini yang seru di perjalanan!!
Jaraknya … waktu itu harus memakan 2 hari 1 malam, kebayang dong betapa jauhnya. Padahal sebenarnya yang bikin lama itu truk jalannya kayak siput, pelan-pelan dan berguncang-guncang. Pasalnya jalannya berbatu-batu bak kali asat, melewati hutan lebat yang kadang terhalang batang pohon yang roboh melintang.
Terpaksa om-om polisi muda turun memotong batang pohon dan menyingkirkannya ke tepi. Dan itu terjadi berkali-kali. Maklum tak ada yg penah lewat disitu pakai kendaraan, yah terakhir kali mungkin ketika belum merdeka ketika masih dijajah menir-menir dari Belanda atau Kempetai Jepun.
Itu belum seberapa!
Yang lebih gila lagi ketika harus melewati sungai yang jembatannya hanya terdiri dari 2 batang kayu besar melintang sungai atau kali. Om-om polisi muda itu harus mengatur agar batang kayu itu pas di roda truk dan truk harus melintas dengan super hati-hati. Salah sedikit truk terguling masuk jurang kali penuh bebatuan.
Kami semua turun, melihat dengan dag dig dug , dada berdebar kencang, selamat gak truk itu, beserta sopirnya. Perlahan-lahan truk bergerak dengan aba-aba riuh dari om-om polisi muda. Dan… tepat menjelang pas di tengah jembatan, seorang om polisi berteriak “Awas! Brenti!”.
Truk berhenti, karena roda depannya agak mengarah miring atau apa (jujur, aku gak tahu kenapa). Yang jelas aku satu-satunya anak kecil disuruh pergi menjauh dari tempat itu digiring oleh satu om supaya tak bisa menyaksikan jika terjadi sesuatu yang mengerikan.
Setelah menunggu agak lama dibalik rimbunnya hutan, seorang polisi datang dan membolehkan aku keluar. Dia juga yang menggendongku menyeberang kali berbatu-batu, tidak lewat jembatan tentunya.
MAKAN DAGING ISTIMEWA
Lepas dari jembatan horor itu waktu telah melewati tengah hari, dan om-om polisi itu memutuskan untuk mengisi perut, makan. Makan apa? Yang ada cuma beras doang, tapi itu tak menjadi masalah, karena tinggal cari sayur dedaunan yang banyak di hutan seperti pakis/paku dan lain-lain.
Lauknya..??
Gampang!!
Beberapa orang polisi dengan berbekal senjata masuk hutan mencoba berburu. Tak berapa lama kemudian terdengar letusan senjata beberapa kali. Kami berpikir mungkin itu rusa atau bisa juga kerbau.
FYI, disana dulu banyak kerbau liar sehingga setiap hari Bhayangkara 1 Juli biasanya ada pesta besar di asrama polisi dengan hidangan daging kerbau hasil perburuan di hutan. Pada saat seperti itu kami makan enak sepuasnya, gak “melak” ( bahasa kita disana alias mupeng) seperti biasanya kalau lihat lauk daging. Hehehe, … nanti ada episode MELAK di pesta Hari Bhayangkara yg seru!!!
Eh… ternyata bukan rusa, kerbau atau kambing… tapi KUDA. Ya kuda yg banyak lepas liar disana, dulu.
Kami semua lalu beranjak menuju dimana kuda itu mati tertembak. Para om polisi lalu mengulitinya dan mengolah menjadi makanan, Ada sebagian yg direbus jadi sop, dan ada pula yg dipanggang.
Sungguh mati biar miskin dan jarang makan daging saya gak pernah ngebayang makan daging kuda.
Seorang om polisi memberi sepotong daging kuda di piringku, potongan yg besar dan ..masyaalah.. serat daging kuda itu gede-gede dan baunya langu, minta ampun. Saya tak bisa memakannya!
Seorang om polisi yg kasian ngeliat saya lalu ngasih hati kuda yg rasanya lebih baik ketimbang dagingnya. Setengah mati saya berusaha menelan daging asing ini. Setelah itu selalu terbayang dibenakku kalau daging kuda itu gak enak, seratnya kasar dan baunya langu. (Belakangan 6-7 tahun lalu saya coba makan sate kuda di Semarang, tapi ya di otakku bilang gak enak, jadi ya gak enak!)
Setelah kenyang makan siang menjelang sore dengan lauk daging kuda, para om polisi itu merasa lelah dan memutuskan untuk menginap saja di hutan. Selain telah capai, memang akan sangat berbahaya berjalan di malam hari dengan kondisi jalan dan jembatan seperti tadi itu.
Kamipun menginap di hutan dan saya dibolehkan tetap tidur diatas truk, diatas tumpukan barang-barang yg dibawa, termasuk beras. Temannya banyak,….nyamuk hutan yang ganas-ganas.
Akhirnya pagi tiba, dan om-om polisi itu segera berkemas. Setelah sarapan….dengan daging kuda lagi rombongan pun berangkat menuju Borong. Episode yang sama, hutan, jalan berbatu dan jembatan titian maut. Gerak majunya begitu lambat dan melelahkan. Belum lagi ditambah hujan. Lengkap deh.
Akhirnya sore menjelang gelap kami memasuki kecamatan Borong, kampung sederhana dimana bapakku, opa Stef bertugas. Dan untuk pertama kalinya aku menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan yakni ribuan ekor KALONG besar (flying fox, bukan kelelawar) terbang diatas langit Borong. Sungguh ruar biasa! (Setelah nanti kita tinggal di Borong, ini mah jadi pemandangan sehari-hari…. Tunggu episode Nginjek Buaya di Borong).
Perjalanan yang melelahkan padahal jaraknya untuk ukuran sekarang sih gak seberapa jauh cuma 56,1 km dan cukup hanya 1 jam saja sekarang lewat beraspal.
Dan aku ketemu dengan bapakku, Opa Stef. Beliau sangat gembira melihat kedatangan kami dan selepas basa basi bapak segera menuntunku ke kamarnya dan menyuruhku tidur. Tanpa komando lagi aku langsung pulas kelelahan untuk seorang bocah kelas 1 SD itu.
IKAN BAKAR
Besoknya pagi-pagi sekali aku sudah terbangun dan opa stef langsung menuntunku menuju sungai Wae Bobo yg letaknya persis berdampingan dengan kamar opa itu, maksudnya rumah tempat kami menginap itu persis di tepi sungai Wae Bobo di sebelah timur jembatan Wae Bobo. (nanti setelah pindah ke Borong, kami tinggal di sebelah barat jembatan Wae Bobo).
Aku langsung terjun ke kedung yg dalam airnya mengikuti opa Stef yg terjun dengan gagahnya. Kami berdua berenang, mandi dan bercengkerama sepuasnya. Asal tahu saja, sungai ini airnya jernih dan segar langsung mengalir dari pegunungan.
Habis mandi Opa lalu mengajakku ke pantai melalui kampung Bugis. Woi betapa takjubnya aku melihat orang Bugis bikin perahu besar sekali. Dalam hati gimana bawanya ke laut nanti, karena tempat pembuatannya masih agak jauh dari pantai.
Tiba-tiba opa menggamitku yg masih bengong disitu : “Ayo kita ke pantai. Kamu belum pernah lihat laut kan?”
Tanpa menjawab aku bergegas melebarkan langkah ingin cepat sampai ke laut. Deburan ombaknya seakan melambai-lambai ditelinga, : ”Itu suara laut ya pak?”
“Iya, itu suara ombak laut” kata opa membetulkan pernyataanku.
Begitu sampai di pinggir pantai akupun terpesona melihat air yang begitu banyak dan luas lagi. Eh, maklum ya, kami kan dari pegunungan dan belum pernah lihat air sebanyak itu.
Singkat cerita puaslah kami menikmati pantai dan laut Borong. Sebelum pulang aku lihat ada orang yang menenteng ikan besar dan diserahkan ke opa Stef. Aku tidak tahu apakah opa membeli ikan itu atau pemberian dari nelayan karena tahu opa Stef polisi di wilayah itu. Wow, di jaman itu polisi masih sangat dihargai (atau “ditakuti”) lho.
Ketika menginjak gelap opa mengajakku ke tepi sungai Wae Bobo, sebenarnya sih disamping rumah, dan membuat tungku persis di dekat tebing sungai yg tingginya sekitar 5 m dari permukaan air. Ikan lalu di panggang dan kami berdua melahapnya. Wow bukan main enak rasanya, dan tau sendiri kan opa selalu kasih yg terbaik buatku.
“Ayo makan lagi, biar pintar seperti orang Jepang” kata Opa. Opa memang kagum sama Jepang, dan pernah jadi Seinendan di jaman Jepang menjajah kita itu.
FYI, Seinendan adalah organisasi barisan pemuda yang dibentuk oleh pemerintah Jepang pada 9 Maret 1943. Tujuan dibentuknya Seinendan adalah untuk mendidik serta melatih para pemuda supaya dapat mempertahankan keamanan Indonesia.
Indahnya suasana, Sambil makan ikan di tepi sungai yang indah dihiasi bintang di langit. Kebayang gak sih suasana seperti itu. Syahdu dan tenang, serta damai dihati.
Tiba-tiba terdengar suara Opa bersenandung:
(Tolong yg tahu artinya kasih tahu ya. Juga kalau salah kata-katanya)
Kako solo mode tana molo
Kita kone mata rate mona oko
Ine iki mea kita blo degha
Degha ko negha kita papa egha.
Ine kaju bua
Kaju bua reta ulu mea
Bua yopo rua
Oa mo ulenga.
Paling tidak itu yang kudengar.
Kulihat mata opa sedikit sendu, dan menghentikan nyanyinya.
“Itu lagu apa pak?”
Opa tidak menjawab dengan jelas,
“Mari kita tidur saja”, ajak Opa Stef.
Dan itulah untuk pertamakali dan terakhir kali aku mendengar lagu Kakosolo dari mulut opa.
Sepanjang hidupnya setelah malam itu beliau tidak pernah terdengar menyanyikan lagu itu lagi.
Tetapi tetap kuingat, meski mungkin tidak betul kata-katanya .
Aku sering menyanyikannya dulu kalau kangen opa waktu jauh dari opa, di SMA di Jogja atau saat kuliah di Bandung.
Sekarang pun demikian, Sepeninggal opa Stef aku selalu menyanyikan lagu itu ketika sendiri. Sepertinya opa juga ikut menyanyikannya... Obat kangen yang sempurna.
Ketika menulis ini pun seakan opa sedang berada disampingku.
“Hai Opa...”
Komentar
Posting Komentar