PSSI GAGAL (Saktinya ORA ET LABORA)
---Kenangan Om Hillon---
Kalian tentu puas menyaksikan Piala Dunia di Qatar yang penuh kejutan dan Argentina keluar jadi Juaranya, untuk ketiga kali. Banyak negara sudah ikut final piala dunia dan beberapa diantaranya juara,… bahkan beberapa kali. Brasil sudah 5 kali. Indonesia berapa kali? …. lain kali, lawabnya!
Mungkin sekarang kalian sedang asyik menyimak piala AFF 2022, dan Indonesia (PSSI) masuk semi final. Semoga bisa lolos ke final.
Sayangnya PSSI selama ini selalu gagal jadi juara. Mau tahu kenapa PSSI selalu gagal juara?
Berikut ini rahasianya. Silakan baca sampai akhir!
Saya memang suka olahraga, apasaja mulai dari kasti, volley, sepakbola, badminton, pingpong, golf, hingga Benthik dan Gobaksodor pun jadi.
Eh, tahu gak kalian permainan Benthik itu?
Itu kalau di Betawi disebut Gatrik. Masih gak tahu…??? Ya googling aja biar tahu.
Kalau Gobak-Sodor tahu nggak?
Konon ini permainan asal Inggris yang namanya Go Back Through The Door, dan oleh lidah Jawa jadi Go Bak So Dor alias Gobaksodor. Memang aturan dari permainan ini harus bisa kembali melalui pintu-pintu yang setiap pintunya ada penjaga yg siap menyergap.
Hehehe… di Betawi dikenal dengan nama Galasin. Masih gak tahu juga? Gaul dong, eh googling dong…!
Dari semua permainan itu yang paling saya sukai tidak lain yakni Sepakbola, dan kedua Badminton. Bukan mau sombong, tapi di dua cabang olah raga itu saya punya prestasi, atau paling tidak keahlian saya diatas rata-rata gitulah.
Betapa tidak, untuk sepak bola saat masih di kelas 4 SD saya pernah dipanggil bergabung dengan skuad SD se kabupaten Kulon Progo untuk ikut PORSENI antar Kabupaten se DIY yang diadakan di kota Bantul. Teman-teman saya satu team semuanya kelas 6 dan berasal dari ibukota kabupaten, kota Wates, cuma saya yg kelas 4 SD dan berasal dari sebuah desa yang namanya Kentheng, Kecamatan Nanggulan.
Untuk menuju ke Pemusatan Latihan di Wates (4 hari sebelum bertanding) Opa Stef lah yang mengantarkan dengan naik sepeda dan saya membonceng di belakang. Harusnya ada guru yang musti mengantar, tapi tak ada yg bisa (karena harus mengajar di kelas). Tapi opa Stef dengan semangat tinggi mau mengantar saya naik sepeda. Jaraknya padahal lumayan jauh, 27 km, lewat Sentolo.
Kenapa tidak naik oplet atau bus?
Ah, kalian tentu sudah tahu jawabannya: kami tak punya uang!
Dengan sabar opa menggenjot sepeda melewati desa-desa lain Jatisarono, Nanggulan, Janti, setan, Wijilan dan tanjakan/turunan SUDU. Ini kelokan naik turun yang panjang, lebih dari 1 km, Kebayang dong Opa Stef musti genjot pedal sepeda sekuat tenaga dengan beban anak kelas 4 SD. Eh, tapi opa masih muda dan gagah, waktu itu.
(FYI, tikungan/kelokan Sudu ini pernah menjadi tempat shooting film “Pahlawan Gua Selarong, dan saya ikut main lho. Nanti saya ceritain kisahnya,)
Akhirnya kelokan Sudhu terlewati dan jalan mendatar menuju Sentolo. Nah tiba di pertigaan Sentolo, depan Kantor Polisi Sentolo, kami berhenti dan Opa Stef mengajakku ke warung di pertigaan itu. Diambilnya 2 buah tahu bacem dan disodorkannya kepadaku: “Kamu makan tahu ini. Kamu mau bertanding, biar kuat…” kata Opa Stef.
Segera kulahap 2 potong tahu bacem itu. Ini makanan enak yg jarang kami makan. Kulirik opa, dan ternyata opa tidak makan apa-apa. Beliau hanya minum air putih yg disediakan gratis oleh mbok pemilik warung. Tahu dong alasannya..!
Seperempat jam kemudian kami melanjutkan perjalanan melewati jalan besar menyusuri desa-desa yang aku tak hapal namanya. Singkat cerita akhirnya kami sampai di pemusatan latihan di Wates dan opa menyerahkan aku ke panitia disana. Luar biasanya Opa Stef terus pamit pulang tanpa istirahat lagi, Aku tak tahu doa apa yg dipanjatkan Opa Stef untuk anaknya yang mau bertanding sepakbola. Asal tahu saja ini olahraga kasar full body contact yang wasitnya sering tidak jeli bahkan bisa berat sebelah! Salah-salah kaki bisa patah digaprak lawan yg main kasar!
Tiba disana saya agak minder karena peserta yg lain besar-besar, bahkan ada yg umurnya sudah 14 thn dari kota pula, sementara sy masih 10 th dari desa lagi. Dan saya tidak punya sepatu bola!
Tentu saja di kompetisi di Bantul itu saya main bola dengan kaki kosong alias nyeker, mewakili Kabupaten lho… The West Prog ...alias Kulon Progo!
Prestasi sepak bola kedua saya yakni saat di SMA De Britto Yogyakarta. Di SMA yang hebat ini karena punya lapangan bola sendiri, saya masuk dalam skuad SMA de Britto dan pernah membantai salah satu SMA Katolik dari Jakarta (gak usah disebut namanya ya…) yang awalnya mereka sangat bergaya dan PD banget.. maklum anak Jakarte.
Eh waktu setengah main mereka telah kebobolan 7 – 0, dan tak berani melanjutkan pertandingan…. Hahahah…!
Oiii, bukan itu prestasi yang mau saya ceritakan. Tapi ini, berikut ini:
Saat itu saya baru saja naik kelas kelas 3 jurusan Paspal dan bercita-cita jadi Insinyur. Kakak saya sudah jadi Pilot Garuda, jadi saya juga harus jadi sesuatu, itu tekad saya. Tapi ceritanya jadi dilematis!
Pada bulan Agustus 1975 saya mendapat surat panggilan masuk Sekolah Sepakbola di Salatiga. Ini sekolah sepakbola yang baru dibuka oleh PSSI, ketuanya saat itu pak Bardosono, ingin punya team PSSI punya ilmu sepakbolanya. Tidak hanya asal main bola modal bakat alam. Dan kami yang dipanggil masuk Sekolah ini akan menjadi PSSI Yunior! Dan diproyeksikan untuk Pra Olimpiade Montreal 1976 dan kualifikasi Piala Dunia 1978 Argentina.
Kebayang dong bergeloranya jiwa saya yang memang senang main bola dan pengin jadi pemain idola nasional seperti Ronny Patti Nasarani, Abdul Kadir, Yakob Sihasale, atau Ramang yg legendaris, dll. Waktu itu PSSI jagoan lho di Asia! Jepang, Korea dan Arab Saudi kita bantai bisa 4 – 0. Yah, negara-negara itu belum kenal sepakbola waktu itu.
Untungnya saat itu masih libur habis kenaikan kelas, jadi mudah bagi saya memutuskan pergi ke Salatiga untuk memulai Diklat sepakbola disana. Terbayang saya akan jadi pemain PSSI dan terbayang pula suara penyiar RRI, Sambas, mengomentari dan menyemangati pertandingan seperti biasanya.
Sambas ini penyiar RRI yg seru kalau menyiarkan pendangan mata pertandingan sepakbola atau badminton lewat Radio. Semua orang tahu dia.
Di diklat sepakbola itu saya ketemu dan berlatih bersama beberapa orang yang kemudian menjadi pemain top PSSI seperti hadi Ismanto, Suhatman, Catur Sudarmanto dan beberapa lainnya.
Tapi ketika baru beberapa hari disana, sekitar 5 hari, saya mendapat surat dari…… OPA STEF!!!
Surat itu dikirim dari Kupang ke SMA saya, dan seingatku lalu ada yang mengirimnya dari Jogja ke Salatiga.
Mau tahu apa isinya?
Sebenarnya tidak ada yang aneh isinya selain pesan : belajarlah dengan rajin, tetap kejarlah cita-citamu dan ucapan yg selalu hadir di akhir surat itu (seperti biasanya di sebelah kiri bawah) : Ora Et Labora. Artinya, Berdoa dan Bekerja.
Meski itu seperti pesan pada umumnya surat opa Stef, kali ini saya terhenyak mebaca pesan opa Stef itu. Saya merenung, pasti opa menulisnya dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati!. Sayapun berpikir kenapa saya berada disini? Apa tujuan ssebenarnya saya? Bukankah saya ingin jadi insinyur? Bisakah hidup dengan bermain bola? Berkecamuk pikiran saya, gak karu-karuan. Saya sudah kelas 3 paspal dan setengah tahun lagi akan lulus. Sementara sepakbola pada waktu itu belum ada liga profesional seperti sekarang. Mau makan apa? Haru biru pikiran saya tak karuan.
Di lain sisi saya sangat menyukai sepakbola. Tidak ada yg lebih menyenangkan selain main bola! Apalagi bisa jadi terkenal dan jadi pahlawan negeri ini. Dan sekarang aku sudah dipanggil masuk diklat sepakbola, bakal jadi PSSI Yunior.! Sudah sejauh ini...! Aku benar-benar bingung!
Tapi, terbayang wajah opa Stef yg sudah berjuang setengah mati menghidupi kami, apalagi sepeninggal oma Stef,… saya tiba pada keputusan aku harus terus bersekolah! TITIK!
Malam itu pula aku berkemas dan tanpa pamit meninggalkan asrama Diklat untuk kembali ke Jogja. Sengaja aku tidak pamit karena takut dirayu untuk tetap berlatih sepakbola dan aku bisa luluh tidak jadi ke Jogja. Tahu kan, sepakbola itu kesenanganku paling besar di dunia ini! Jadi, daripada nanti aku berubah pikiran maka aku memilih kabur saja!
Aku kembali masuk sekolah ketika saat liburan habis dengan membawa “Dendam” terhadap sepakbola. Ini ibarat sebuah situasi yang memaksa seorang meninggalkan kekasih tercintanya. Aku Geram sama sepak bola.
Jadi, jangan heran ya kalau sekarang ini setiap kali seorang pemain PSSI tidak becus mengolah bola, salah mengoper, atau gagal membuat gol aku pasti mencak-mencak, memaki dasar pemain tolol, tidak punya otak, bego, dan segala sumpah serapah karena aku merasa bisa melakukannya dengan lebih baik! Apalagi melihat tubuh pemain-pemain kontet yang disenggol sedikit saja oleh pemain asing berbadan lebih besar sudah tersungkur. Gimana mau menang, badan sudah kate, otak pun minim pula!
(gak sombong tinggiku 176 cm lho, lebih tinggi dari kebanyakan orang Indonesia kan?)
Aku kemudian menyelesaikan SMA ku di Jogja dan meneruskan kuliah di ITB Bandung. Disini aku ikut mendirikan klub GALADOS atau Liga Sepakbola Dosen ITB dan menjadi pemain sebagai penyerang meskipun saat itu aku satu-satunya pemain yg bukan dosen, masih mahasiswa lho! Kami sering bertanding dengan klub-klub profesi hingga ke Jakarta dan Surabaya.
Itulah kisah aku gagal masuk Skuad PSSI!
Tapi berkat surat Opa Stef itulah aku bisa meraih cita-citaku.
Terimakasih Opa...
Komentar
Posting Komentar